Nusantaratv.com - Pidato UNGA 80 Presiden Prabowo yang viral di India mengingatkan kita, bahwa ada kalanya diplomasi antar negara tidak dibangun oleh perjanjian, kontrak investasi, atau kerja sama pertahanan.
Ada kalanya diplomasi dibangun oleh fondasi yang jauh lebih kuat: penghormatan terhadap peradaban dan sejarah panjang.
Di India, negeri dengan lebih dari 1,5 miliar penduduk, pidato UNGA Presiden Prabowo memperoleh penghormatan yang sangat istimewa.
Pidato itu dibuka dengan rangkaian salam yang sederhana, tetapi sarat makna.
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Shalom. Salve. Om Swastyastu.
Salam Kebajikan. Rahayu. Rahayu.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pembukaan pidato.
Namun bagi dunia, terutama bagi 1,5 milyar masyarakat India, pembukaan pidato ini adalah sebuah deklarasi tentang Indonesia.

Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan Dirgayuza Setiawan menghadiri peluncuran buku "Presiden Solusi: Solving Problem Ala Prabowo Subianto" di University Club, Jakarta, Senin (8/6/2026). (Foto: ANTARA/HO-Bakom)
Presiden Prabowo memperlihatkan bahwa negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia mampu memelihara warisan Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, Konghucu, dan tradisi-tradisi Nusantara dalam satu identitas nasional yang utuh.
Puncaknya hadir pada kalimat penutup.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Shalom.
Om Shanti Shanti Shanti Om.
Namo Buddhaya.
May God bless us all. May peace be upon us.
Bagi masyarakat India, pidato Presiden Prabowo ini ternyata bukan sekadar indah.
Momen itu menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam.
"Om Shanti Shanti Shanti Om" adalah doa berbahasa Sansekerta yang memohon kedamaian bagi pikiran, perkataan, dan tindakan manusia.
Baca Juga: Panen Penolakan Ideologis: Strategi Transformasi Bangsa Jeffrey Sachs dan Prabowo Subianto
Ketika doa itu diucapkan oleh Presiden Indonesia di forum tertinggi dunia, masyarakat India melihat sesuatu yang sangat jarang mereka saksikan:
Seorang pemimpin dari negara Muslim terbesar di dunia yang dengan penuh penghormatan menghidupkan kembali salah satu warisan spiritual India di hadapan seluruh bangsa-bangsa.
Mereka melihat penghormatan.
Mereka melihat persaudaraan.
Mereka melihat bahwa filosofi mereka, Vasudhaiva Kutumbakam, "dunia adalah satu keluarga besar", tidak hanya hidup di India, tetapi juga menemukan rumahnya di Indonesia.
Sesungguhnya, hubungan Indonesia dan India memang jauh lebih tua daripada negara-negara modern yang kita kenal hari ini.
Lebih dari seribu tahun yang lalu, kapal-kapal telah berlayar melintasi Samudra Hindia, menghubungkan pesisir India dengan Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusantara melalui Jalur Sutra Maritim.
Bersama rempah-rempah, emas, dan kain, mengalir pula bahasa, ilmu pengetahuan, sastra, filsafat, seni bangunan, hingga gagasan tentang negara dan kehidupan.
Di tepian Sungai Batanghari, lahirlah Muaro Jambi, salah satu kompleks pendidikan dan keagamaan Buddha terbesar di Asia Tenggara.
Selama berabad-abad, kawasan itu menjadi tempat bertemunya para biksu, cendekiawan, dan pelajar dari berbagai penjuru Asia.
Banyak sejarawan meyakini bahwa kawasan ini merupakan salah satu simpul intelektual yang menghubungkan India, Sriwijaya, dan Tiongkok melalui jaringan maritim Asia.
Dari sanalah, dari Muaro Jambi, gagasan-gagasan besar menyeberangi lautan jauh sebelum lahirnya universitas-universitas modern.
Beberapa abad kemudian, berdirilah Prambanan, mahakarya arsitektur yang menjulang dengan kisah-kisah Ramayana terpahat di setiap reliefnya.
Namun Ramayana di Prambanan bukanlah salinan India. Ia telah menjadi Ramayana Indonesia, diterjemahkan, ditafsirkan, dan dihidupkan kembali oleh kebudayaan Nusantara menjadi sesuatu yang baru tanpa kehilangan akarnya.

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi. (Foto: Istimewa)
Itulah kekuatan Indonesia.
Indonesia tidak pernah kehilangan jati dirinya ketika menerima pengaruh dari luar.
Sebaliknya, Indonesia mengolahnya menjadi identitasnya sendiri.
Karena itu, ketika Presiden Prabowo mengucapkan Om Swastyastu dan Om Shanti Shanti Shanti Om, beliau tidak sedang meminjam bahasa bangsa lain.
Beliau sedang mengucapkan bagian dari warisan Indonesia sendiri.
Warisan yang telah hidup berabad-abad di Bali.
Warisan yang pernah berkembang di Muaro Jambi.
Warisan yang dipahat megah di Prambanan.
Warisan yang menjadi bukti bahwa Nusantara sejak dahulu adalah tempat bertemunya berbagai peradaban dunia.
Hari ini, sejarah hubungan kedua negara masuk babak baru.
Hari ini, Perdana Menteri India Narendra Modi memulai kunjungan kenegaraan 3 hari 2 malam ke Indonesia.
Kunjungan yang memastikan hubungan kedua negara tidak berhenti sebagai kenangan sejarah, melainkan menjadi fondasi bagi kerja sama ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, keamanan, dan perdamaian pada abad ke-21.
Catatan Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden RI, 6 Juni 2026.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh