Nusantaratv.com - Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran menyita dua kapal kargo asing, mempertegas dominasinya di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.
Aksi ini terungkap melalui video yang dirilis televisi pemerintah Iran pada Kamis (23/4/2026), memperlihatkan pasukan komando bertopeng menyerbu kapal menggunakan perahu cepat.
Mereka terlihat menaiki kapal kargo raksasa MSC Francesca dengan tangga tali sambil mengacungkan senjata, dalam tayangan dramatis bergaya film aksi.
Iran mengklaim telah menangkap dua kapal, yakni MSC Francesca dan Epaminondas, karena diduga melintas tanpa izin di Selat Hormuz.
Langkah Teheran ini menjadi sinyal kuat meski Amerika Serikat (AS) memiliki kekuatan militer unggul, pengaruhnya di kawasan tersebut masih menghadapi tantangan serius.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Presiden AS Donald Trump merespons santai namun tegas. Dia menyebut kapal-kapal kecil Iran sebagai ancaman yang "cerdik", tetapi yakin Teheran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan.
Meski begitu, Trump juga melontarkan peringatan keras. "Saya tidak terburu-buru, tapi jika Iran tidak menginginkan kesepakatan, saya akan menyelesaikannya secara militer," ujar Trump, dikutip dari Reuters, Jumat (24/4/2026).
Baca Juga: Panas! Trump Siap "Hajar" Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka, Ancaman Neraka Bikin Dunia Cemas
Ketegangan ini terjadi setelah pembicaraan damai antara AS dan Iran di Pakistan pada 11-12 April berakhir tanpa hasil. Hingga kini, belum ada jadwal lanjutan untuk negosiasi tersebut.
Iran sendiri menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum AS mencabut blokade pelayaran yang dianggap melanggar gencatan senjata.
Situasi semakin kompleks dengan konflik regional, termasuk keterlibatan Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Di sisi lain, dampak konflik mulai terasa pada ekonomi global. Sejumlah survei menunjukkan meningkatnya tekanan akibat lonjakan harga energi, yang membuat biaya produksi industri naik dan aktivitas ekonomi melemah, termasuk di sektor jasa.
Trump bahkan mengklaim AS kini memegang "kendali penuh" atas Selat Hormuz, sambil memperingatkan Angkatan Laut untuk menindak kapal Iran yang mencoba memasang ranjau di wilayah tersebut.
Meski menggunakan retorika keras, Trump menegaskan tidak akan menggunakan senjata nuklir. "Senjata nuklir tidak seharusnya digunakan oleh siapa pun," katanya.
Sementara itu, Iran membantah adanya perpecahan internal seperti yang diklaim Washington, dan menilai narasi tersebut sebagai upaya melemahkan stabilitas nasional.
Dengan eskalasi yang terus meningkat, Selat Hormuz kembali menjadi titik panas geopolitik dunia, dengan potensi dampak besar terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh