Nusantaratv.com - Teknologi baterai solid-state semakin mendekati tahap penerapan di kendaraan listrik (EV) produksi.
Dikutip dari Carscoops, Jumat (21/8/2026), Geely menjadi salah satu produsen otomotif asal China yang bersiap membawa teknologi tersebut ke mobil konsumen melalui tahap uji coba mulai tahun depan.
Geely telah mengembangkan baterai solid-state selama beberapa tahun dan mulai mengujinya pada kendaraan prototipe.
Baterai generasi terbaru ini diklaim mampu mencapai kepadatan energi hingga 500 Wh/kg, yang berpotensi meningkatkan jarak tempuh kendaraan listrik secara signifikan.
Mulai 2027, teknologi tersebut rencananya akan diuji coba pada sejumlah kendaraan dari berbagai merek yang berada di bawah naungan grup Geely. Merek yang disebut mencakup Zeekr, Lynk & Co, Volvo, Polestar, Lotus, hingga Smart.
Jarak Tempuh Tembus 1.000 Kilometer
Salah satu keunggulan utama baterai solid-state Geely adalah kapasitas energinya yang diklaim mampu membawa mobil listrik melaju lebih dari 621 mil atau sekitar 1.000 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Dengan kemampuan tersebut, Geely menyebut kendaraan listrik yang menggunakan baterai solid-state ini dapat menawarkan jarak tempuh yang sebanding dengan mobil bermesin diesel konvensional.
Tak hanya menawarkan jarak tempuh panjang, baterai ini juga diklaim memiliki daya tahan yang sangat tinggi. Geely menyebut masa pakainya dapat mencapai 621.000 mil atau sekitar 1 juta kilometer.
Jika klaim tersebut terbukti dalam penggunaan nyata, teknologi ini dapat menjawab salah satu kekhawatiran konsumen terhadap mobil listrik, yakni penurunan performa baterai dalam jangka panjang.
Belum Dipastikan Masuk Produksi Massal
Meski tahap pengujian dijadwalkan berlangsung tahun depan, Geely belum memberikan kepastian apakah baterai solid-state tersebut akan langsung masuk ke produksi massal atau kapan konsumen dapat membeli kendaraan yang menggunakannya.
Tahap uji coba menjadi langkah penting untuk mengetahui performa, keamanan, ketahanan, serta efisiensi baterai dalam kondisi penggunaan sehari-hari sebelum teknologi ini diterapkan secara lebih luas.
Di sisi lain, peluang baterai solid-state Geely untuk memasuki pasar Amerika Serikat (AS) juga masih menjadi tanda tanya.
Tingginya tarif yang diberlakukan AS terhadap kendaraan dan produk otomotif dari China dapat menjadi salah satu hambatan bagi teknologi tersebut untuk masuk ke pasar Negeri Paman Sam.
Namun, perkembangan Geely tetap menjadi sinyal penting bagi industri otomotif global. Jika baterai solid-state mampu mencapai performa seperti yang diklaim, teknologi ini berpotensi meningkatkan jarak tempuh sekaligus memperpanjang usia pakai kendaraan listrik.
Bukan Hanya Geely yang Kembangkan Solid-State
Geely bukan satu-satunya produsen yang mengembangkan baterai solid-state. Sejumlah perusahaan otomotif global juga tengah mengembangkan teknologi serupa.
Stellantis dan Karma, misalnya, bekerja sama dengan perusahaan baterai Factorial untuk mengembangkan baterai solid-state generasi terbaru.
Sementara itu, Ford juga terus mengembangkan teknologi baterai solid-state, meski dalam jangka pendek perusahaan tersebut masih memprioritaskan teknologi baterai yang dinilai lebih ekonomis, termasuk lithium manganese-rich (LMR).
General Motors (GM) juga mengambil pendekatan serupa dengan tetap mengembangkan beragam teknologi baterai untuk menekan biaya dan meningkatkan daya saing kendaraan listrik.
Persaingan ini menunjukkan baterai solid-state berpotensi menjadi salah satu teknologi penting dalam evolusi mobil listrik.
Jika berhasil mencapai tahap produksi massal dengan biaya yang kompetitif, baterai tersebut dapat menawarkan kombinasi jarak tempuh lebih jauh, umur pakai lebih panjang, dan potensi peningkatan keamanan dibandingkan baterai lithium-ion konvensional.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh