DARI MEJA REDAKSI: Jurnalis NTV Imbau Pemerintah Tak Perlu "Kebakaran Jenggot" Hadapi Kritik Publik

DARI MEJA REDAKSI: Jurnalis NTV Imbau Pemerintah Tak Perlu "Kebakaran Jenggot" Hadapi Kritik Publik

Nusantaratv.com - 24 Agustus 2026

Producer Eksekutif NTV Syifa Hamdhani, Host Chakry Miller (tengah) dan Manager Digital Royandi Hutasoit (kanan) dalam program DARI MEJA REDAKSI Nusantara TV
Producer Eksekutif NTV Syifa Hamdhani, Host Chakry Miller (tengah) dan Manager Digital Royandi Hutasoit (kanan) dalam program DARI MEJA REDAKSI Nusantara TV

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Program DARI MEJA REDAKSI Nusantara TV episode Senin 24 Agustus 2026 membahas sorotan publik terhadap tindakan penghadangan dan dugaan aksi represif dari aparat terhadap aksi unjuk rasa yang dilakukan para mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) pada 18 Agustus lalu. 

Dengan ciri khas DARI MEJA REDAKSI Nusantara TV yang lugas dan obyektif, dialog bertema "Gemuruh Aksi Mahasiswa Terhalang Aturan" yang dipandu Host Chakry Miller menghadirkan Producer Eksekutif NTV Syifa Hamdhani
Manager Digital Royandi Hutasoit. 

Producer Eksekutif NTV Syifa Hamdhani mengimbau Pemerintah untuk tidak perlu "kebakaran jenggot" atau merespons secara berlebihan demontrasi yang dilakukan mahasiswa. Karena pada hakikatnya para mahasiswa memiliki dasar konstitusional yang diatur dalam Undang-undang untuk menyuarakan aspirasi mereka. 

"Pemerintah hari ini engga boleh tipis kuping. Engga usah kebakaran jenggot. Pemerintah itu harus siap dibully karena itu bagian dari konsekuensi dan risiko jabatan gitu loh," ujar Syifa Hamdhani yang akrab disapa Kang Ajo. 

Menurutnya, jika ada kritik atau caci maki yang tidak berdasar atau kemudian berlebihan bisa direspon secara santai. 

"Tinggal ditelusuri apakah jatuhnya sudah hoaks. Kan ada ada pasalnya penyebaran atau misalnya fitnah. Jadi enggak usah kebakaran jenggot," tandasnya. 

Hal senada disampaikan Manager Digital Royandi Hutasoit. Dikatakan, semua 
tuntutan mahasiswa itu adalah program pemerintah. Di mana mereka berharap ada perbaikan dari program prioritas Pemerintah Prabowo-Gibran. Mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih hingga Sekolah Rakyat dan lainnya. 

"Atau yang paling dekat kemarin kita bencana NTT. Nah, kalau di bencana NTT sih tergolong tanggap ya. Kalau kita lihat sentimennya naik di digital. Pemerintah itu tidak dianggap lalai. Beda dengan kayak di Sumatera sebelumnya. Jadi yang bikin jadi negatif adalah dibanding-bandingkan dengan yang di Sumatera," tutur Royandi. 

Yang menarik perhatian, kata Royandi, di ruang digital yang cenderung mendapat perhatian luas dari publik bukan delapan tuntutan yang disuarakan mahasiswa. Tetapi justru insiden-insiden yang terjadi saat aksi unjuk rasa. Misalnya saat Fatimah marah-marah ke polisi dan saat polisi melakukan penghadangan. 

Saksikan selengkapnya DARI MEJA REDAKSI Nusantara TV episode 24 Agustus 2026 dengan mengklik video di bawah ini. 

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close