Nusantaratv.com - Produsen mobil listrik asal China, BYD, menghadapi sorotan setelah mengakui kesalahan administrasi yang membuat 1.265 pelanggan di Australia menerima kendaraan yang tidak sesuai dengan kontrak pembelian.
Meski perusahaan menawarkan kompensasi, sejumlah konsumen menilai nilai ganti rugi tersebut belum sebanding dengan kerugian yang mereka alami.
Salah satu pelanggan yang terdampak adalah warga Melbourne, Zoheb Khan. Dia mengaku telah menggunakan mobil listrik BYD barunya selama beberapa minggu sebelum dihubungi pihak perusahaan yang menawarkan kompensasi sebesar 1.100 dolar Australia atau sekitar Rp13,7 juta (kurs Rp12.530 per dolar Australia).
Khan kemudian mengetahui mobil yang dibelinya ternyata diproduksi pada 2025, padahal dalam kontrak dan dokumen pembelian kendaraan tersebut tercantum sebagai model tahun 2026.
"Tanggal pada faktur kami menunjukkan tahun 2026. Semua dokumen sudah ditandatangani dan proses pembelian selesai. Namun dua minggu kemudian, saya mendapat telepon dari layanan pelanggan BYD yang mengatakan telah terjadi kesalahan administrasi," ujar Khan, dikutip dari News.com.au, Jumat (17/7/2026).
Menurut BYD, tidak ada perbedaan spesifikasi antara kendaraan produksi 2025 dan 2026. Sebagai bentuk kompensasi, perusahaan mengembalikan dana sebesar 1.100 dolar Australia, setara biaya pengiriman kendaraan.
Namun, Khan mengaku terkejut setelah mengetahui bila dirinya bukan satu-satunya korban. Setelah membaca berbagai forum daring, dia menemukan banyak pelanggan lain yang mengalami masalah serupa.
"Banyak sekali orang yang mengalami hal yang sama. Hampir semua komentar yang saya baca memiliki cerita serupa," katanya.
Dia menyebut persoalan tersebut terjadi di berbagai dealer BYD dan melibatkan sejumlah model kendaraan di seluruh Australia.
Meski sebagian pelanggan telah menerima kompensasi, Khan menilai nilai penggantian tersebut belum cukup.
Dia meminta BYD mengganti unit kendaraannya atau memberikan kompensasi yang lebih besar, tetapi hingga kini belum mendapat tanggapan.
Menurutnya, kesalahan administrasi ini juga berdampak pada nilai asuransi dan berpotensi memengaruhi harga jual kembali (resale value) mobil di masa depan.
"Saya sebenarnya puas dengan mobilnya. Masalahnya bukan pada kendaraannya, melainkan kesalahan administrasi yang akhirnya merugikan banyak pelanggan," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Hubungan Masyarakat BYD Australia, Paul Ellis, kepada ABC membenarkan terdapat 1.265 pelanggan terdampak oleh kesalahan administrasi tersebut.
"Tidak ada unsur penipuan," kata Ellis.
Dia menjelaskan pelanggan yang terdampak akan memperoleh pengembalian dana penuh. Jika menginginkan transaksi baru, konsumen juga dapat membeli kendaraan BYD lainnya.
Di sisi lain, Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC) mengingatkan konsumen memiliki hak atas produk yang sesuai dengan deskripsi saat pembelian.
Berdasarkan Australian Consumer Law (ACL), pelaku usaha dilarang memberikan informasi yang menyesatkan, termasuk mengenai model atau tahun produksi suatu produk.
ACCC juga menegaskan perusahaan wajib mengambil langkah yang tepat untuk menyelesaikan masalah serta berkomunikasi secara langsung dengan konsumen.
Jika sengketa tidak terselesaikan, pelanggan dapat meminta bantuan lembaga perlindungan konsumen di negara bagian masing-masing atau melaporkan kasus tersebut kepada ACCC.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh