Alarm Keras dari SBY: Jangan Senang Merusak dan Melanggar Konstitusi

Alarm Keras dari SBY: Jangan Senang Merusak dan Melanggar Konstitusi

Nusantaratv.com - 15 Oktober 2026

Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pesan tegas dalam orasinya di Dies Natalis ke-68 Fisip Unpad, Jawa Barat, Selasa (13/10/2026).
Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pesan tegas dalam orasinya di Dies Natalis ke-68 Fisip Unpad, Jawa Barat, Selasa (13/10/2026).

Penulis: Ninuk Cucu Suwanti

 

NusantaraTV.com – Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pesan tegas dalam orasinya di Dies Natalis ke-68 Fisip Unpad, Jawa Barat, Selasa (13/10/2026). SBY mengingatkan, jangan senang merusak apalagi melanggar konstitusi.

“Jangan senang merusak, melanggar konstitusi. Karena itu buat kita adalah jangkar, koridor, tiang. Kita harus memastikan dan memilih sistem politik apa yang kita pilih ini. Ada dua godaan. Satu sistem parlementer, satu sistem presidensial. Agak mengemuka di era reformasi dulu, tetapi saya pribadi memilih sistem presidensial,” kata SBY sebagaimana ditayangkan dalam program NTV Trend Nusantara TV, Kamis (15/10/2026).

“Tetapi dengan check and balances yang bagus. Kalau terlalu kuat eksekutif seperti dulu orde lama, orde baru. Terlalu kuat parlementer seperti demokrasi liberal. Masa Bung Karno 45 sampai 56. Jadi yang paling baik sistem presidensial, mengingat sejarah negara kita, bangsa kita sangat majemuk. So, we need presidential system asalkan ada checks and balances yang baik.”

SBY mengaku secara pribadi dirinya lebih menyukai negara kesatuan dibandingkan negara federal.

“Tetapi dengan desentralisasi dan otonomi daerah yang tepat dan adil. Tidak boleh Jakarta terlalu kuat, daerah lemah. Mari kita pastikan konstruksi sistem pemerintahan kita ada pembagian kekuasaan yang tepat. Nasional seperti apa, provinsi seperti apa, kabupaten dan kota seperti apa,” ucap SBY.

“Itulah yang menyangga sistem pemerintahan kita. Kemudian ada juga bagaimanapun pengalaman saya, kekuasaan presiden baca presidential power, memang tidak boleh terlalu lemah. Kita enggak bisa bekerja.”

Menurut SBY, Undang-undang Dasar sudah empat kali dilakukan perubahan yang hakikatnya melucuti kekuasaan presiden karena dianggap terlalu surplus.

“Saya menyadari. Tetapi kalau makin dilucuti, Presiden sangat tidak mudah to govern. Oke, inilah yang saya maksudkan. Pas saja, tidak boleh lebih dari yang diperlukan. Kalau berlebihan, ya Indonesia akan masuk ke sistem otoritarian,” ujar SBY.

“Strong man, strong government, weak people, weak parlementen. Bukan itu yang kita tuju. Jadi harus ada satu paduan keseimbangan yang semua itu yang mengatur konstitusi. Konstitusi itu kan mengatur power relations. Presiden seperti apa? lembaga negara yang lain seperti apa, negara seperti apa, rakyat seperti apa, stabilitas seperti apa.”

Pernyataan SBY perihal konstitusi dapat Anda simak selengkapnya dengan mengakses YouTube Nusantara TV.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close